Kolom
Opini : Artikel Konservasi Penyu
KOTA PARIAMAN
Pusat Konservasi
Penyu Dunia
Harfiandri Damanhuri
Ketua Pusat Data dan
Informasi Penyu Indonesia, UBH
Anggota FKPP,
Sumatera Barat
Kota Pariaman, salah satu
kota pesisir di Sumatera Barat yang maju pesat dengan mengelola, mengembangkan
dan menonjolkan keberadaan potensi
sumber daya laut, kawasan pesisir, pulau-pulau kecil serta potensi biota langka
penyu laut (sea turtle). Biota yang
dilindungi oleh semua badan dunia, dimana sampai saat ini pusat konservasi
penyu Kota Pariaman ini telah di kunjungi oleh lebih dari 30 negara di dunia.
Kedatangan para tamu yang
melakukan perjalanan ke Kota Pariaman baik itu kunjungan wisata untuk tujuan
kesenangan (leisure) seperti berlibur/liburan/cuti,
aktifitas kebudayaan, kegiatan olah raga, mengunjungi sanak saudara/family/keluarga, serta untuk tujuan
kesenangan lainnya dalam menikmati keindahan dan panorama kawasan pesisir pantai,
laut dan pulau-pulau kecil serta menikmati kuliner khas masakan Piaman “nasi-sek”
dan “kapalo lauk”.
Sedangkan kunjungan wisata
profisional untuk tujuan menghadiri rapat dalam acara lomba internasional Triathlon, Tour de Singkarak, misi kerjasama internasional, perdagangan dan
bisnis serta wisatawan yang datang dengan tujuan lainnya seperti berkunjung
dalam rangka pendidikan/penelitian (adat/budaya), untuk tujuan kesehatan/pengobatan,
ataupun singgah untuk sementara waktu dalam rangka mengunjungi tempat tujuan
utama lainnya, selain ke Kota Pariaman.
Kehadiran para wisatawan
lokal dan internasional dengan tujuan wisata kesenangan, profisional maupun
tujuan pendidikan baik secara individu maupun secara kelompok/rombongan telah
mengantarkan Wali Kota Pariaman untuk
periode kesekian kalinya di tahun 2015, mendapatkan penghargaan sebagai Pembina
Wilayah Konservasi Perairan di Indonesia, salah satu dari lima (5) penghargaan
“Adibakti Mina Bahari” dari Kementerian Perikanan dan Kelautan Republik
Indonesia untuk wilayah Propinsi Sumatera Barat, selain Propinsi Daerah Istimewa Nanggroe Aceh Darussalam dan
Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Pusat Konservasi Penyu Dunia
belahan Barat Samudera Indonesia/Hindia, Unit Pelayanan Teknis (UPT) Konservasi
Penyu, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Kota Pariaman yang ditetapkan di
Desa Apar dan Pulau Kasiek hasil penelitian dan rekomendasi FPIK Universitas
Bung Hatta mulai dibangun pada tahun 2006 dengan sumber pendanaan APBN,
dilanjutkan sampai tahun 2008. Periode waktu 3 tahunun (2006-2008), bahkan
sampai tahun 2009, pusat konservasi penyu dunia belahan barat Indonesia ini
belum menjadi perhatian oleh para wisatawan pada waktu itu, baik wisatawan
lokal maupun wisatawan internasional.
Dalam perjalanan waktu yang cukup
panjang, upaya promosi yang berterusan, adanya kunjungan lapangan dari berbagai
lembaga/PTN/S salah satunya adalah perguruan tinggi Universitas Bung Hatta
(khusus Fakultas Perikanan Ilmu Kelautan dan Pasca Sarjana PSP2K), FMIPA Unand,
UNRI, UNSRI, Sekolah Internasional Jakarta dan lembaga/instansi pendidikan lainnya
yang selalu rajin datang membawa mahasiswa/muridnya untuk berkunjung ke pusat
konservasi setiap tahunnya. Dengan datangnya mahasiswa/siswa sebagai salah satu
agen perubahan dan promosi yang terus menerus serta publikasi yang baik di media
massa, mendapat respon dan perhatian secara khusus dari pemerintah kota yang
konsisten sesuai dengan visi dan misinya wali kota berupaya terus melengkapi sarana
dan prasarana pengembangan dan pembangunan di kawasan konservasi penyu ini Desa
Apar dan Pulau Kasiak.
Pada tahun 2010 dibangun
beberapa fasilitas penunjang seperti ruangan
penetasan penyu, ruangan pemeliharaan penyu, WC, pos pengawas, pintu gerbang
masuk kawasan dan jalan setepak. Pada tahun 2011 ditambah lagi dengan membangun
fasilitas sarana air bersih, papan informasi, dan peralatan pendukung sebuah
kantor seperti ; meja, kursi, almari dan lain sebagainya, dan terus dilanjutkan
pada tahun-tahun berikutnya ; 2012, 2013, 2014 dan 2015, dengan tidak
meninggalkan kegiatan “pemberdayaan
masyarakat” dengan melibatkan masyarakat yang selalu beraktifitas di dalam
Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kota Pariaman sehingga perkembangan
setiap tahunnya dapat kita lihat dengan cara datang mengunjungi pusat
konservasi tersebut.
Kondisinya sampai saat sekarang
Pusat Konservasi Penyu terus berbenah dan dikembangkan sebagai mana juga diikuti
dengan perkembangan tingkat kunjungan para wisata lokal dan internasional yang
terus berdatangan untuk melihat biota penyu di Pusat Konservasi Penyu Dunia belahan
Barat Indonesia ini.
Kita berharap Pusat
Konservasi Penyu Dunia di Kota Pariaman tidak hanya menetas dan
mengembangbiakan, serta memelihara antar waktu beberapa tukik penyu hasil penetasan
(inkubasi) alami secara ex-situ yang
dilepaskan kembali ke habitat alaminya ; laut lepas di depan kawasan UPT Konservasi
Penyu. Selain itu kawasan UPT Konservasi Penyu ini juga diharapkan dapat mengembangkan
diri (isi) dari pusat konservasi penyu dengan mencoba mengkombinasikan pemeliharaan/membesarkan
atau membudidayakan penyu bersama dengan terumbu karang (coral reef) yang hidupnya bersifat individu (soliter) dari jenis karang keluarga Fungidae dalam bak-bak pemeliharaan
penyu yang tersedia, atau juga dapat mengembangkan/pembesaran penyu bersama
dengan kelompok karang lunak (soft coral
; anemon laut dengan ikan nemo-nya).
Sehingga ke depan kawasan konservasi
penyu ini dapat berkembang lebih hebat, tidak hanya bermain dengan “icon” penyu
laut saja, juga dapat menghadirkan biota baru, karang soliter, anemon laut dan
“ikan nemo”-nya yang indah, berwarna-warni keluar masuk dalam sarangnya yang dapat
menarik dan memikat hati setiap pengunjung yang datang ke Pusat Konservasi
Penyu Dunia di belahan Barat Samudera Indonesia ini.
Kehadiran komunitas biota
baru seperti karang keras yang dapat hidup sendiri (soliter) dan karang lunak (sea anemone) dengan ikan nemo-nya (clon fish), akan dapat meningkatkan
jumlah para pengunjung yang juga berdampak terhadap masyarakat sekitarnya. Para
tamu nantinya dapat menyaksikan secara dekat dan langsung dalam bak-bak
pemeliharaan keberadaan penyu bersama terumbu karang dan anemon laut dengan ikan
hiasnya. Sesuatu hal baru yang dapat kita mulai dan dilakukan oleh Tim UPT Konservasi
Penyu sendiri.
Bagi wisatawan lokal yang
belum pernah datang dan singgah di UPT Konservasi Penyu, maka sekali-kali se-umur
hidup, mampirlah ke Kawasan Pusat Konservasi Penyu Dunia belahan Barat Samudera
Hindia di Desa Apar, Kota Pariaman, Propinsi Sumatera Barat, dalam upaya meningkatkan
wawasan dan pengetahuan serta dapat mewariskan nilai konservasi kepada anak
cucu serta belajar menghargai ciptaan Tuhan. Salah satunya adalah penyu laut yang sudah hidup rentang waktu yang
panjang dan melintasi babakan antar generasi kehidupan di muka bumi ini.
Suatu kebahagian dan
kegembiraan sebagai seorang anggota dalam komunitas masyarakat pesisir pantai di
belahan Barat Samudera Indonesia yang punya kepedulian terhadap penyu dan
ekosistem terkait yang sampai saat ini masih dapat kita melihat dan menikmati
keberadaan penyu laut (sea turtle) sebagai
salah satu biota yang berperan penting dalam mengatur keseimbangan rantai
makanan (food chain) di dalam
samudera lautan yang sangat luas di dunia ini.
Semoga nilai-nllai ekonomi
konservasi secara langsung/tidak langsung seperti nilai keberadaan penyu di
alam (existence value), nilai pewarisan
untuk dapat menjaga keberadaan penyu ke generasi berikutnya (bequest value) dan nilai apresiasi (option value) dari masyarakat Kota
Pariaman atas pilihannya untuk mendukung dan dapat menikmati atau jasa yang
diberikan atas kehadiran lokasi kawasan UPT Konservasi Penyu Kota Pariaman,
sehingga nilai ekonomi konservasi terhadap sumberdaya laut dan biotanya (penyu
dan terumbu karang) masih dapat kita pahami bersama-sama sampai kita wariskan ke
anak cucu dan generasi berikutnya.
Sehingga harapan kita
kedepannya anak cucu kita-pun masih akan dapat menikmati keberadaan, peranan dan
fungsi nilai penting penyu laut didalam mengatur keseimbangan dan kelestarian alam
samudera yang luas ini, semoga saja. Salam
Konservasi (d.harfiandri@yahoo.com, 23.01.2016).