Minggu, 14 Februari 2016



Kolom Opini : Artikel Konservasi Penyu

KOTA PARIAMAN
Pusat Konservasi Penyu Dunia


Harfiandri Damanhuri

Ketua Pusat Data dan Informasi Penyu Indonesia, UBH
Anggota FKPP, Sumatera Barat  

Kota Pariaman, salah satu kota pesisir di Sumatera Barat yang maju pesat dengan mengelola, mengembangkan dan menonjolkan  keberadaan potensi sumber daya laut, kawasan pesisir, pulau-pulau kecil serta potensi biota langka penyu laut (sea turtle). Biota yang dilindungi oleh semua badan dunia, dimana sampai saat ini pusat konservasi penyu Kota Pariaman ini telah di kunjungi oleh lebih dari 30 negara di dunia.
Kedatangan para tamu yang melakukan perjalanan ke Kota Pariaman baik itu kunjungan wisata untuk tujuan kesenangan (leisure) seperti berlibur/liburan/cuti, aktifitas kebudayaan, kegiatan olah raga, mengunjungi sanak saudara/family/keluarga, serta untuk tujuan kesenangan lainnya dalam menikmati keindahan dan panorama kawasan pesisir pantai, laut dan pulau-pulau kecil serta menikmati kuliner khas masakan Piaman “nasi-sek” dan “kapalo lauk”.
Sedangkan kunjungan wisata profisional untuk tujuan menghadiri rapat dalam acara lomba internasional Triathlon, Tour de Singkarak, misi kerjasama internasional, perdagangan dan bisnis serta wisatawan yang datang dengan tujuan lainnya seperti berkunjung dalam rangka pendidikan/penelitian (adat/budaya), untuk tujuan kesehatan/pengobatan, ataupun singgah untuk sementara waktu dalam rangka mengunjungi tempat tujuan utama lainnya, selain ke Kota Pariaman.
Kehadiran para wisatawan lokal dan internasional dengan tujuan wisata kesenangan, profisional maupun tujuan pendidikan baik secara individu maupun secara kelompok/rombongan telah mengantarkan  Wali Kota Pariaman untuk periode kesekian kalinya di tahun 2015, mendapatkan penghargaan sebagai Pembina Wilayah Konservasi Perairan di Indonesia, salah satu dari lima (5) penghargaan “Adibakti Mina Bahari” dari Kementerian Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia untuk wilayah Propinsi Sumatera Barat, selain Propinsi  Daerah Istimewa Nanggroe Aceh Darussalam dan Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Pusat Konservasi Penyu Dunia belahan Barat Samudera Indonesia/Hindia, Unit Pelayanan Teknis (UPT) Konservasi Penyu, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Kota Pariaman yang ditetapkan di Desa Apar dan Pulau Kasiek hasil penelitian dan rekomendasi FPIK Universitas Bung Hatta mulai dibangun pada tahun 2006 dengan sumber pendanaan APBN, dilanjutkan sampai tahun 2008. Periode waktu 3 tahunun (2006-2008), bahkan sampai tahun 2009, pusat konservasi penyu dunia belahan barat Indonesia ini belum menjadi perhatian oleh para wisatawan pada waktu itu, baik wisatawan lokal maupun wisatawan internasional.
Dalam perjalanan waktu yang cukup panjang, upaya promosi yang berterusan, adanya kunjungan lapangan dari berbagai lembaga/PTN/S salah satunya adalah perguruan tinggi Universitas Bung Hatta (khusus Fakultas Perikanan Ilmu Kelautan dan Pasca Sarjana PSP2K), FMIPA Unand, UNRI, UNSRI, Sekolah Internasional Jakarta dan lembaga/instansi pendidikan lainnya yang selalu rajin datang membawa mahasiswa/muridnya untuk berkunjung ke pusat konservasi setiap tahunnya. Dengan datangnya mahasiswa/siswa sebagai salah satu agen perubahan dan promosi yang terus menerus serta publikasi yang baik di media massa, mendapat respon dan perhatian secara khusus dari pemerintah kota yang konsisten sesuai dengan visi dan misinya wali kota berupaya terus melengkapi sarana dan prasarana pengembangan dan pembangunan di kawasan konservasi penyu ini Desa Apar dan Pulau Kasiak.
Pada tahun 2010 dibangun beberapa fasilitas penunjang  seperti ruangan penetasan penyu, ruangan pemeliharaan penyu, WC, pos pengawas, pintu gerbang masuk kawasan dan jalan setepak. Pada tahun 2011 ditambah lagi dengan membangun fasilitas sarana air bersih, papan informasi, dan peralatan pendukung sebuah kantor seperti ; meja, kursi, almari dan lain sebagainya, dan terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya ; 2012, 2013, 2014 dan 2015, dengan tidak meninggalkan kegiatan “pemberdayaan masyarakat” dengan melibatkan masyarakat yang selalu beraktifitas di dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kota Pariaman sehingga perkembangan setiap tahunnya dapat kita lihat dengan cara datang mengunjungi pusat konservasi tersebut.
Kondisinya sampai saat sekarang Pusat Konservasi Penyu terus berbenah dan dikembangkan sebagai mana juga diikuti dengan perkembangan tingkat kunjungan para wisata lokal dan internasional yang terus berdatangan untuk melihat biota penyu di Pusat Konservasi Penyu Dunia belahan Barat Indonesia ini.
Kita berharap Pusat Konservasi Penyu Dunia di Kota Pariaman tidak hanya menetas dan mengembangbiakan, serta memelihara antar waktu beberapa tukik penyu hasil penetasan (inkubasi) alami secara ex-situ yang dilepaskan kembali ke habitat alaminya ; laut lepas di depan kawasan UPT Konservasi Penyu. Selain itu kawasan UPT Konservasi Penyu ini juga diharapkan dapat mengembangkan diri (isi) dari pusat konservasi penyu dengan mencoba mengkombinasikan pemeliharaan/membesarkan atau membudidayakan penyu bersama dengan terumbu karang (coral reef) yang hidupnya bersifat individu (soliter)  dari jenis karang keluarga Fungidae dalam bak-bak pemeliharaan penyu yang tersedia, atau juga dapat mengembangkan/pembesaran penyu bersama dengan kelompok karang lunak (soft coral ; anemon laut dengan ikan nemo-nya).
Sehingga ke depan kawasan konservasi penyu ini dapat berkembang lebih hebat, tidak hanya bermain dengan “icon” penyu laut saja, juga dapat menghadirkan biota baru, karang soliter, anemon laut dan “ikan nemo”-nya yang indah, berwarna-warni keluar masuk dalam sarangnya yang dapat menarik dan memikat hati setiap pengunjung yang datang ke Pusat Konservasi Penyu Dunia di belahan Barat Samudera Indonesia ini.
Kehadiran komunitas biota baru seperti karang keras yang dapat hidup sendiri (soliter) dan karang lunak (sea anemone) dengan ikan nemo-nya (clon fish), akan dapat meningkatkan jumlah para pengunjung yang juga berdampak terhadap masyarakat sekitarnya. Para tamu nantinya dapat menyaksikan secara dekat dan langsung dalam bak-bak pemeliharaan keberadaan penyu bersama terumbu karang dan anemon laut dengan ikan hiasnya. Sesuatu hal baru yang dapat kita mulai dan dilakukan oleh Tim UPT Konservasi Penyu sendiri.
Bagi wisatawan lokal yang belum pernah datang dan singgah di UPT Konservasi Penyu, maka sekali-kali se-umur hidup, mampirlah ke Kawasan Pusat Konservasi Penyu Dunia belahan Barat Samudera Hindia di Desa Apar, Kota Pariaman, Propinsi Sumatera Barat, dalam upaya meningkatkan wawasan dan pengetahuan serta dapat mewariskan nilai konservasi kepada anak cucu serta belajar menghargai ciptaan Tuhan. Salah satunya adalah  penyu laut yang sudah hidup rentang waktu yang panjang dan melintasi babakan antar generasi kehidupan di muka bumi ini.
Suatu kebahagian dan kegembiraan sebagai seorang anggota dalam komunitas masyarakat pesisir pantai di belahan Barat Samudera Indonesia yang punya kepedulian terhadap penyu dan ekosistem terkait yang sampai saat ini masih dapat kita melihat dan menikmati keberadaan penyu laut (sea turtle) sebagai salah satu biota yang berperan penting dalam mengatur keseimbangan rantai makanan (food chain) di dalam samudera lautan yang sangat luas di dunia ini.
Semoga nilai-nllai ekonomi konservasi secara langsung/tidak langsung seperti nilai keberadaan penyu di alam (existence value), nilai pewarisan untuk dapat menjaga keberadaan penyu ke generasi berikutnya (bequest value) dan nilai apresiasi (option value) dari masyarakat Kota Pariaman atas pilihannya untuk mendukung dan dapat menikmati atau jasa yang diberikan atas kehadiran lokasi kawasan UPT Konservasi Penyu Kota Pariaman, sehingga nilai ekonomi konservasi terhadap sumberdaya laut dan biotanya (penyu dan terumbu karang) masih dapat kita pahami bersama-sama sampai kita wariskan ke anak cucu dan generasi berikutnya.
Sehingga harapan kita kedepannya anak cucu kita-pun masih akan dapat menikmati keberadaan, peranan dan fungsi nilai penting penyu laut didalam mengatur keseimbangan dan kelestarian alam samudera yang luas ini, semoga saja. Salam Konservasi (d.harfiandri@yahoo.com, 23.01.2016).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar